Tata Surya dan Teori-Teorinya

November 8, 2013 at 2:36 pm (Uncategorized)

PENGERTIAN TATA SURYA

Tata Surya adalah kumpulan benda-benda langit yang terdiri dari sebuah bintang besar yang disebut matahari, dan semua objek yang terikat oleh gaya grafitasinya. Objek-objek tersebut adalah delapan buah planet yang sudah diketahui dengan orbit berbentuk elips, lima planet kerdil, 173 satelit alami yang telah diidentifikasi, dan jutaan benda langit (meteor, asteroid, komet) lainnya. Tata Surya (Solar System) atau yang juga disebut keluarga matahari (The sun and its family) adalah suatu sistem yang teridiri dari Matahari sebagai pusar Tata Surya itu dan di kelilingi dengan planet-planet, komet (bintang berekor), meteor (bintang beralih), satelit, dan asteroid.

1.Teori Nebule (Teori Kabut)

dikemukakan oleh Immanuel Kant (1749-1827) dan Piere Simon de Laplace (1796) Matahari dan planet berasal dari sebuah kabut pijar yang berpilin di dalam jagat raya, karena pilinannya itu berupa kabut yang membentuk bulat seperti bola yang besar, makin mengecil bola itu makin cepat putarannya. Akibatnya bentuk bola itu memepat pada kutubnya dan melebar di bagian equatornya bahkan sebagian massa dari kabut gas pada menjauh dari gumpalan intinya dan membentuk gelang-gelang di sekeliling bagian utama kabut itu, gelang-gelang tersebut kemudian membentuk gumpalan pada, nah inilah yang disebut planet-planet dan satelitnya. Sedangkan bagian tengah yang berpijar tetap berbentuk gas pijar yang kita lihat sekarang sebagai matahari.

2.Teori Planetesimal

dikemukakakn oleh Ahli Geologi Thomas C. Chamberlin (1843-1928) dan Seorang Astronom Forest R. Moulton (1872-1952) Tata Surya kita terbentuk akibat adanya bintang lain yang lewat cukup dekat dengan Matahari, pada masa awal pembentukan Matahari. Kedekatan tersebut menyebabkan terjadinya tonjolan pada permukaan matahari, dan bersama proses internal matahari, menarik materi berulang kali dari matahari. Efek gravitasi bintang mengakibatkan terbentuknya dua lengan spiral yang memanjang dari matahari.

3.Teori Pasang Surut

dikemukakan oleh Dua Orang yang Berasal dari Inggris yaitu Sir James Jeans (1877-1946) dan Harold Jeffreys (1891) Planet dianggap berbentuk karena mendekatnya bintang lain kepada matahari. Keadaan yang hampir bertabrakan menyebabkan tertariknya sejumlah besar materi dari matahari dan bintang lain tersebut oleh gaya pasang surut bersama mereka yang kemudian terkondensasi menjadi planet.

Setelah Bintang itu berlalu dengan gaya tarik bintang yang besar pada permukaan matahari terjadi proses pasang surut seperti peristiwa pasang surutnya air laut akibat gaya tarik bulan. Sebagian massa matahari itu membentuk cerutu itu terputus-putus membentuk gumpalan gas di sekitar matahari dengan ukuran yang berbeda-beda, gumpalan itu membeku dan kemudian membentuk planet-planet.

4.Teori Awan Debu

dikemukakan oleh carl Von Weizsaeker (1940) yang Kemudian Disempurnakan oleh Gerard P Kuiper (1950) Tata Surya terbentuk dari gumpalan awan gas dan debu. Gumpalan awan itu mengalami ppemampatan, pada proses pemampatan tersebut partikel-partikel debu tertarik ke bagian pusat awan itu membentuk gumpalan bola dan mulai berpilin dan kemudian membentuk cakram yang tebal di bagian tengah dan tipis di bagian tepinya. Partikel-partikel di bagian tengah cakram itu saling menekan dan menimbulkan panas dan berpijar, bagian inilah yang menjadi matahari. Sementara bagian yang luar berputar sangat cepat sehingga terpecah-pecah menjadi gumpalan yang lebih kecil, gumpalan kecil ini berpilin pula dan membeku kemudian menjadi planet-planet.

5.Teori Bintang Kembar oleh Fred Hoyle (1915-2001)

Tata Surya kita berupa dua bintang yang hampir sama ukurannya dan berdekatan yang salah satunya meledak meninggalkan serpihan-serpihan kecil. Serpihan itu terperangkap oleh gravitasi bintang yang tudak meledak dan mulai mengelilinginya

6. Teori Big Bang

Teori Big Bang mengungkapkan kalau bumi dan tata surya terbentuk dari gumpalan kabut raksasa, yang awalnya, berputar pada poros yang semestinya. Pembentukan ini berlangsung puluhan milyar tahun lalu. Lalu, bagian-bagian kecil dari gumpalan raksasa tadi terhempas keluar. Sedangkan bagian besarnya tetap berkumpul. Kemudian, gumpalan raksasa yang menggumpal seperti cakram itu meledak sangat dahsyat. Lalu, lemparan tadi membentuk nebula-nebula, yang akhirnya menjadi galaksi karena pembekuan. Bagian yang lebih kecil mengalami pendinginan dan padat, sehingga membentuk gumpalan. Gumpalan itu menjadi planet-planet, termasuk bumi. Teori ini merupakan teori yang paling terkenal dalam kaitannya dengan sejarah terbentuknya bumi. Menurut teori ini, bumi berasal dari gumpalan kabut raksasa yang berputar pada porosnya pada milyaran tahun yang lalu. Perputaran tersebut menyebabkan adanya bagian-bagian kecil yang terlempar keluar dan bagian yang besar terpusat membentuk putaran raksasa.Gumpalan dari putaran kabut raksasa tersebut akhirnya meledak dengan dahsyat yang kemudian membentuk nebula-nebula dan galaksi. Nebula-nebula tersebut membeku dan akhirnya membentuk suatu galaksi, yang kita kenal sebagai Galaksi Bima Sakti saat ini. Sedangkan gumpalan yang ringan dan telempar keluar tadi akhirnya juga membeku dan membentuk planet-planet kecil, salah satunya adalah bumi.

7.teori terbaru

Dari jurnal science mempublikasikan teori terbentuknya bumi oleh pakar geokimia, Caroline Fitoussi dan Bernard Bourdon dari Ecole Normale Superieure de Lyon Prancis. Mereka berpendapat bahwa bumi terbentuk dari campuran meteorit. Dalam penelitiannya, Fitoussi dan Bourdon membandingkan isotop rimiti batuan bumi dengan dua jenis batuan meteorit, yakni enstantite chondrite dan enstatite achondrite.

Selain itu, dibandungkan pula dengan batuan bulan, Chondrite sendiri merupakan jenis meteorit yang belum pernah mengalami diferensiasi. Sedangkan enstatie chondrite merupakan jenis meteorit yang kaya akan mineral enstatite. Kesimpulan analisis ini, bumi dan bulan mempunyai persamaan, dan kemungkinan material bulan bercampur dengan material di mantel bumi, sebelum bulan itu terbentuk

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

Alat Input, Output, dan Proses Komputer

September 18, 2013 at 1:34 pm (Uncategorized)

Alat Input
Alat input adalah alat-alat yang berfungsi untuk memasukan data atau perintah dari luar sistem ke dalam suatu memori dan prosesor untuk diolah guna menghasilkan informasi yang diperlukan.
Macam-Macam Alat Input Komputer

No

Gambar Alat

Nama Alat

Fungsi

1.
Keyboard
Berfungsi memasukkan huruf, angka,    karakter khusus serta sebagai media bagi  user (pengguna) untuk melakukan  perintah-perintah lainnya yang  diperlukan.
2.
Mouse
Berfungsi untuk memindahkan pointer  atau kursosr secara cepat serta mengatur  posisi kursor di layar
3.
Scanner
Berfungsi untuk mengopi atau menyalin  gambar atau teks yang kemdian disimpan  dalam memori komputer. Scanner  sebenarnya terbagi atas beberapa jenis  menurut fungsinya. ada yang berfungsi  memindai tulisan dan menyimpannya  dalam format teks, ada yang berfungsi  untuk memindai dan menyimpan dalam  format picture, ada pula yang berfungsi  untuk memindai warna hitam seperti  yang  dilakukan alat periksa kertas ujian.
4.
Joystick
Umumnya digunakan sebagai pelengkap  untuk memainkan permainan video yang  dilengkapi lebih dari satu tombol
5. Touch pad Fungsinya sebagai penggerak kursor pada  monitor melalui stimulasi gerakan jari  yang menyentuh touchpad tersebut
6. Track ball Menyimulasikan pergerakan vertikal  mouse, sehingga pengguna tidak perlu  menggerakkan mouse berulang kali untuk  dapat menaikkan atau menurunkan layar
7. Light Pen Untuk memodifikasi atau mendesain  gambar dengan screen
8. Camera digital Menangkap obyek gambar yang akan  ditampilkan ke layar komputer untuk  diproses lebih lanjut
9. Handy cam Merekam gambar yang akan ditampilkan  ke layar monitor untuk diproses lebih  lanjut
10. Webcam Digunakan untuk konferensi video jarak    jauh atau sebagai kamera pemantau.
11. Microphone and headphone Microphone berfungsi untuk merekam  suara yang akan disimpan dalam memori  komputer, selain itu kita juga dapat  berbicara dengan orang lain pada saat  chatting. Headphone berfungsi untuk  mendengarkan suara
12. Graphics Pads Untuk menggambar objek pada monitor
13.
Barcode
Berfungsi untuk membaca suatu kode  yang berbentuk kotak-kotak atau garis-  garis tebal vertikal yang kemudian  diterjemahkan dalam bentuk angka-angka

Alat Output

Alat output adalah alat-alat yang berfungsi mengeluarkan data-data yang berbentuk informasi yang dibutuhkan.
Macam-Macam Alat Output Komputer

No

Gambar Alat

Nama Alat

Fungsi

1. Monitor Berfungsi menampilkan teks dan/atau gambar, baik diam atau bergerak, yang dijanakan oleh komputer dan diproseskan oleh grafik.
2. Printer Untuk mencetak teks atau gambar ke media kertas atau media lainnya seperti kertas transparansi
3. Plotter Digunakan untuk mencetak gambar ukuran yang  cukup besar, seperti gambar mesin dan konstruksi  bangunan
4. Speaker Untuk memberikan informasi dalam bentuk suara
5. Proyektor Berfungsi menampilkan bayangan sebuah  gambar positif yang dapat ditembus  cahaya.

Alat Proses
Alat proses adalah alat-alat yang berfungsi mengolah data kedalam komputer setelah mengalami proses Input.
Macam-Macam Alat Proses Komputer

No

Gambar Alat

Nama Alat

Fungsi

1. CPU Sebagai otak dan pengendali proses kinerja  computer, dengan dibantu komponen  lainnya.
2. ALU (Arithmetic Logical Unit) Berfungsi untuk melakukan suatu proses  data yang berbentuk angka dan logika,  seperti data matematika dan statistika
3. CU (Control Unit) Berfungsi untuk melakukan pengontrolan  dan pengendalian terhadap suatu proses  yang dilakukan sebelum data tersebut  dikeluarkan
4. Motherboard Sebagai pusat pengendali yang mengatur  kerja dari semua komponen yang  terpasang padanya serta mengatur  pemberian daya listrik pada setiap  komponen PC.
5. Processor Berfungsi sebagai pengolah data serta  membaca instruksi dari memori tentang  apa yang harus dilakukan dan  mengeksekusinya
6. Register Untuk menyimpan instruksi dan data  yang sedang diproses oleh CPU, sedangkan  instruksi-instruksi dan data lainnya yang  menunggu giliran untuk diproses masih  disimpan di memori utama.
7. Cache Memory Untuk meningkatkan kecepatan  komputerdan dikatakan sebagai memori  perantara
8. ROM (Read Only Memory) Untuk menyimpan firmware
9. RAM (Random Access Memory) Untuk menyimpan data dan instruksi  yang dibutuhkan untuk menyelesaikan  sebuah perintah
10. PCI (Peripheral Component Interconnect) Untuk menangani beberapa perangkat  keras
11. Floppy Disk (Disket) Untuk menyimpan file dalam bentuk teks
12. Harddisk Menjalankan seluruh sistem operasi dan  mekanisme kerja kantor serta menyimpan  setiap data dan informasi
13. CD (Compact Disk) Untuk menyimpan data dengan  menggunakan laser yang berintensitas  tinggi ke dalam CD
14. Flash Disk Untuk menyimpan data dengan kapasitas  32 MB-4GB
15. Zip Drive Untuk menyimpan data sebesar 100 MB
16. Pita Magnetik Untuk menyalin data yang ukurannya 3  GB dari harddisk
17. DVD (Digital Versatile Disc) Untuk menyimpan data, termasuk film  dengan kualitas video dan audio yang  lebih baik dari kualitas VCD
18. Recordable DVD Untuk merekam data atau menghapus  data tergantung dari format DVD yang  digunakan
19. LAN Card Berfungsi sebagai jembatan dari komputer  ke sebuah jaringan komputer
20. VGA Card Untuk menampilkan output process ke  monitor
21. Card Reader Untuk membaca memori flash seperti  MMC, Secure Digital (SD), Extrem Digital ( xD), Memory Stick, Compact Flash
22. Wireless Network Adapter Berfungsi sebagai jembatan dari komputer  ke sebuah jaringan komputer dengan hub  wireless atau router wireless
23. Wireless Router Digunakan untuk membangun suatu  jaringan nirkabel juga dapat digunakan  untuk membagi koneksi internet  broadband seperti jaringan internet, TV  kabel, atau ADSL dengan membagi IP  address pada komuter yang terhubung  dalam jaringan
24. PC Camera Digunakan untuk mengirim video secara  real-time kepada orang lain melalui  komunikasi internet dengan teknologi  webcam
25. Modem Mengubah sinyal analog menjadi sinyal  digital dan mengubah sinyal digital  menjadi analog dari kabel telepon sehingga  komputer dapat terhubung denan internet
26. Sound Card Untuk menghasilkan suara
27. TV Tuner Card Menampilkan gambar dari chanel-chanel  atau stasiun televsi
28. Capture Card Merekam gambar dari VCD/DVD atau    camcorder (handycam)
 

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

Bacalah Ketika Engkau Patah Hati

Februari 14, 2012 at 1:19 am (cerpen)

Devi terbangun tatkala adzan subuh bergema dari masjid di ujung jalan. Entah kenapa pagi ini ia merasa malas untuk berbuat apapun, tetapi untuk tidur kembali pun ia tak bisa. Udara pagi yang dingin membuat ia merasa lebih senang bergelung dibawah selimut sambil melamun.

Baca entri selengkapnya »

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

Cintaku Tak Seperti yang Kuinginkan

Februari 14, 2012 at 1:14 am (cerpen)

Empat tahun yang lalu, pahit untuk dikenang Laila. Berawal dari Laila yang les di rumah gurunya. Saat itu Laila, Ririn, Nur berangkat les. Tiba di les, mereka bertemu empat anak baru yaitu Tino, Rendi, Dino dan Rio. Ririn kaget melihat mereka.
“Lho, itu bukannya Rendi ya?” tanya Ririn.
“Rendi siapa?” tanya Laila balik.
“Rendi yang naksir kamu dulu itu ya Rin? Yang katamu dia satu les sama kamu dulu itu ta?” tanya Nur ke Ririn.
“Iya-iya aku ingat.” sahut Laila.
“Iya Nur, tapi aku udah gak ada rasa lagi sama dia kok.” Jelas Ririn.
“Halah udah jangan di bahas mending kita ke warung sebelah beli makanan.” Seru Nur.
“Iya-iya aku juga udah laper nih.” Sahut Laila.
Baca entri selengkapnya »

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

Di Ujung Stasiun Kecil

November 16, 2011 at 12:24 am (cerpen)

Malam yang tua telah berakhir. Embun jatuh menetes di atas tanah ketika seorang ibu berjalan di keremangan pagi buta. Desa masih lengang. Udara dingin meresap ke pori- pori kulitnya yang berkerut. Sandal yang butut berkeriyut saat dipercepatnya langkah sambil menggenggam selembar surat yang baru saja dikeluarkan dari balik baju yang lusuh dan compang- camping.

Stasiun kecil. Belum ada suara hiruk pikuk di tempat persinggahan kereta api ini. Tapi, dia yakin akan muncul suara jas jes kereta yang selalu membuat jantungnya berdebar cepat. Kereta yang akan tiba. Lalu diantara penjemput yang cuma sedikit di stasiun ini, ia akan berlari. Menyibak kerumunan penumpang dan penjemput, dia lalu lalang mencari wajah serorang pemuda kokoh yang pasti akan menyambutnya dengan senyuman teramat riang. “Ibu!” suara si anak tentu akan membuat dadanya lapang.

“Beno! Beno, anakku sayang… akhirnya kau pulang juga, Nak!“ Maka dia pasti akan memeluk tubuh anaknya. Mendengarkan seluruh kisah perantauan Beno d kota besar. Dia akan bangga bila anakknya menjadi seorang yang sukses. Hidup yang layak. Seperti Surti, anak tetangganya yang selalu membawa banyak oleh-oleh setiap kali pulang. Atau Joko, bekas penggembala kerbau yang sekarang sudah mampu memberikan orang tuannya televisi dan radio ketika dia mudik.

Mungkin anaknya itu akan lebih berhasil di banding kawan-kawannya. Beno anak yang gigih, walau cuma tamatan SD, ia paling suka bekerja keras. Dia yang suka menasihati anaknya tentang jerih payah yang didapat bila seseorang mau berusaha. Ya, disini pun dia tak lupa berharap dan berdoa untuk keberhasilan anaknya.

Tapi, bagaimana jika Beno tidak berhasil di kota sana? Oh, bagaimanapun dia tetaplah seorang ibu. Walau sedikit kecewa, mungkin menangis sesaat, dia akan tetap menghibur dan menguatkan hati anaknya yang putus asa. Dia akan mengelus rambut anaknya dengan sejuta kasih sayang. Bagaimanapun Beno belahan hatnya. Cuma dia tumpuan harapannya. Ayah Beno telah wafat sepuluh tahun lalu karena sakit. Sawah telah jadi milik orang lain. Rumah pun telah diambil alih hingga dia cuma bisa tinggal disebuah gubuk di pinggiran sungai.

Ah dia dan suaminya telah puas menikmati kepahitan hidup ini. Putaran waktu telah mengubah cerita hidup manusia. Semakin hari semakin menyedihkan. Sehinnga menyisakan kepahitan buat si kecil Beno. Keluar dari sekolah, karena untuk menutupi biaya hidup saja merasa sudah tak mampu.

“Beno….” Bibirnya yang pucat itu tak sadar mengeluh pelan. Wajahnya yang berkeriput kini menoleh ke kanan kiri. Ke setiap sudut koridor stasiun. Penjemput dari desa-desa yang tak jauh dari stasiun ini cuma tampak satu dua orang. Dia sendiri duduk diatas selembar kertas koran kumal yang terletak begitu saja di emperan dinding stasiun.

Disitu, dia bersandar. Sambil memasang telinganya dan mulai memejamkan mata. Berkhayal ananknya Beno, telah datang dengan pakaian yang bagus. Kemeja tangan panjang, berdasi, membawa istri dan anak. Menjinjing koper-koper yang sarat dengan barang bawaan. Mungkin isinya pakaian dan makanan dan televisi dan radio, pokoknya masih banyak lagi.

Ibu itu tertidur. Dia tertidur tanpa sengaja. Dan dia baru terbangun ketika seorang mengguncang tubuh keriputnya dengan lembut. Lalu tangannya mengucek-ngucek matanya yang sudah lelah dan agak rabun. Menyadari dirinya masih berada di stasiaun. Menatapi tubuh orang yang telah membuatnya terbangun. Seorang pemuda. Lak-lakii gagah. Siluet Benokah? Anak yang telah dia nanti selama tiga bulan sejak kedatangan suratnya beberapa waktu yang silam? Betulkah dia?

Dia memerhatikan pemuda itu dengan seksama. Retina matanya berusaha merangkai dengan jelas siluet sosok tubuh yang berdiri dihadapanyya. Ah. Wanita itu kembali kecewa. Harapannya kembali dia lepaskan. Bukan, dia bukan Beno! Dia orang lain! Wajah keriputnya merengut karena itu. “Ini, Bu Dar ya? Ibunya Beno bukan?”

Wanita itu mengangguk ketika namanya disebutkan. Berarti ada harapan kalau kabar anaknya dikota akan diceritakan juga oleh orang lain. Siapakah dia? Temannya Beno semasa kecilkah? Atau rekan satu perusahaan dengan anaknya yang berkerja dikota? Atau anak tetangganya sendiri? Tapi dia seperti pernah mengenal raut wajah si pemuda yag berdiri di depannya ini. Dulu dia masih bocah, masih bocah.

“Ibu Dar lupa sama saya? Budi, Bu , Budiman. Anak Pak Yono sahabat dan tetangganya Beno, yang biasa memanjat dan mengambil kecapi setiap siang di belakang rumah ibu yang dulu ?”

“Oalah, ya ampun. Kamu Budi, si nakal, temannya Beno yang dulu masih botak kepalanya itu?” “Lha iya Bu. Masa lupa sama si botak? “ Pemuda itu menjadi tertawa terbahak-bahak mendengar celotehan Ibu Beno yang sempat di panggilnya dengan sebutan emak sewaktu masih kecil dulu.

Dan hatinya tiba-tiba saja menjadi perih ketika teringat sesutatu. Tentang sebuah musibah. Ya, bencana yang akan mendukakan hati perempuan ini. Setidaknya harapan yang berbias di hati Bu Dar tentang anaknya itu pasti akan segera padam. Berganti dengan ekspresi duka cita yang teramat mendalam.

“Ehm, Bu. Ibu ke stasiun ini mau apa?”  Tanya Budiman bodoh. Tujuan dia bertanya itu sesungguhnya memang untuk mengusir kedukaannya sendiri. “Yah mau nunggu Beno, Nak. Tiga bulan sudah suratnya tiba, tapi dia tidak juga datang.” Wanita tua itu seperti tersadar kembali berdiri dan kepalanya celingukan memandang seantero stasiun menatapi rel-rel kereta di stasiun kecil yang lenggang walau hari telah pagi.

“Kereta tadi telah datang waktu ibu tertidur. Ibu saking lelahnya tidak terbangun sama sekali oleh bunyi peluit. Saya baru saja tiba dan sekarang keretanya sudah pergi. Beritahu Budiman, ia begitu tercekat. Rasa iba tib-tiba menyergap dadanya dengan dahsyat.

Tapi, Bu Dar masih tetap memandang kosong pada lintasan rel yang mulai di siram matahari pagi. Sinarnya yang berbias. Embun telah mengering. Tak ada harapan Beno akan tiba hari ini. Seperti hari-hari sebelumnya, dia akan kembali termenung setiap kali kereta berlalu tampa mempersembahkan tubuh anaknya yang bisa saja muncul suatu ketika dari mulut kereta. “Beno sukses di kota Jakarta sana. Saya tahu. Saya pernah datang ke kantornya. Sungguh” Bibir Budiman spontan meloncatkan kata-kata. Tanpa sadar. Tanpa dikehendaki. Semata-mata muncul begitu saja karena terdorong perasaan iba.

“Beno sudah kaya, Nak Budi? Beno? Beno anak saya ?” Budiman kembali mengngangguk. Hatinya perih bila mengingat kisah dan nasib sahabatnya di kota itu. Tapi dia yakin Beno akan bahagia dan damai untuk selanjutnya. Dia bahagia disana. Tak ada lagi sengsara mengoyaki hari-harinya seperti dulu.”Mak Dar…, Emak ikut saya saja ya. Ayo kita pulang. Kita naki delman. Beno pesan sama saya, supaya menjaga dan memperhatikan emak sesudah sampai disini, kita pulang naik delman ya mak“ Ntah mengapa Budiman jadi ingin memangil ibunda sobatnya itu dengan sebutaan emak. Dia ingin keakraban masa kanak-kanaknya itu terulang lagi.

Seperti anak-anak, perempuan tua itu mengangguk. Dia begitu bahagia. Membiarkan Budiman menggandeng tanggannya untuk menjauhi stasiun. Lalu sepanjang koridor stasiun di stasiun kecil itupun kembali sepi. Mungkin siang nanti loket bisa kembali di buka. Itu pun cuma akan diisi oleh beberapa penumpang yang akan pergi ke kota. Mungkin penjual ternak dan hasil panen. Mungkin  juga mereka ingin membeli sesuatu yang teramat perlu di kota.

Delman berjalan terseret mengikuti jalan desa yang berbatu dan tidak rata. Kusir

sibuk dengan suara bibirnya yang berdesis mengendalikan kuda. Bunyi kelenongan. Empat orang pemuda yang kelelahan, Dan cuma Budiman yang tidak bisa tertidur. Menatapi Ibu Dar yang terlelap di sandaran kursi gerobak delman. Perempuan tua yang kurus, lelah menanti harapan yang pasti akan sia-sia.

Budiman memang lelah dan penat juga sepanjang perjalanan kereta yang cukup jauh jaraknya ini. Tapi kisah sahabatnya Beno dan kerinduan Mak Dar tidak bisa lagi membuatnya terkantuk.

Beno telah tiada. Mati di kota besar yang keras sebagai kuli bangunan. Meninggal setahun yang lalu karena penyakit paru-paru. Tuberkolosis yang menahun dan kronis. Kondisi emaknya Beno pun tak kalah dahsyat bagi budiman harapan wanita itu terlalu besar. Sangat besar. Siapa yang tega memberitakan kejadian tentang Beno kepada wanita tua ini?  Ya, dia telah berbohong tadi. Dia tak mampu mengecewakan hati wanita tua ini. Kertas yang tergenggam dihadapan emaknya saat mengirim, dia tak menulis alamat sang pengirim. Hanya nama Beno yang dikirimkan ke kelurahan dengan tujuan emaknya Beno.

Dari kota sana, dia telah lama mendengar kabar tentang emaknya Beno yang selalu melamun. Selalu pergi ke stasiun setiap saat. Wanita itu kabarnya juga tak sudi lagi bercakap dengan orang lain. Cuma nama anaknya yang selalu Mak Dar ucapkan. Sampai dia mengirim surat. Sampai Budiman punya cara terbaik untuk memulihkan semangat wanita tua yang hatinya telah patah itu.

Budiman tak ingin Mak Dar jadi gila, penduduk Desa Sumber Agung  tak ada yang menginginkan salah satu penduduknya jadi tak waras, apalagi mereka kenal Mak Dar, perempuan tua yang baik hati. Bekas orang kaya yang dermawan di masa lalunya. Keturunan anak gadis tuan tanah. Dan sekarang miskin,renta,dan rabun. Masih ditimpa duka pula, kehilangan anak kesayangannya. Beno yang tak akan pernah kembali. Beno tak akan pernah pulang. Sungguh, kebahagiaan benar-benar telah lenyap dari hadapan wanita tua ini.

Ya, Budiman tak mampu melihat ibu sahabatnya juga mati menyusul Beno dengan menderita. Dia tak ingin Mak Dar lupa ingatan. Hingga akhirnya dia terpaksa berbohong. Walau itu dosa. Tapi entah mengapa dia lakukan itu. Barangkali saja Tuhan memaafkannya, walaupun Budiman tahu jelas tak pernah ada namanya dosa putih.

Semilir angin bercampur desau batang padi, ada bunyi kelenengan sapi dan bunyi burung emprit. Tapi, Budiman tidak bisa berpaling dari wajah wanita tua yang masih tertidur lelap. Budiman tak tau sedang bermimpi apa emak Beno sekarang. Yang jelas, Budiman merasa yakin bahwa segala yang dilakukannya pada emak Beno tetap benar, setidaknya hingga saat ini.

***

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

Seuntai Harapan Kosong

November 3, 2011 at 12:29 am (puisi)

Menatap bintang dengan penuh kebimbangan

Saat kumeyadari tak ada lagi bayangmu dalam hidupku

Semua telah usai

Tak ada lagi seberkas harapan yang perlu dinanti

 

Menatap dengan penuh kekosongan

Saat semua yang indah telah berakhir

Saat semua kenangan manis telah terkubur dalam hatiku

Saat semua hari-hari yang berakhir telah hilang

 

Melupakanmu hal yang sulit bagiku

Selalu dan selalu dirimu yang hadir

Dalam setiap langkahku

Dalam setiap detik hembusan nafasku

Dalam setiap lembar kehidupanku

 

Sampai kapan perasaan di hati ini akan berakhir ?

Hati yang begitu rapuh tanpa hadirmu

Hati yang merindu akan kasih sayangmu yang dulu

Hati yang mengharapkanmu kembali kepadaku

 

Walaupun aku tau

Semua itu hanyalah setitik impian di langit biru

Kini, kau bukan miliku lagi

Kusadar sepenuhnya

Begitu menyakitkan !

 

 

 

Kini tinggalah kenangan

Antara kau dan aku

Berakhirlah sebuah cerita yang tertoreh dengan tinta

Tinta kebahagiaan…

 

Biarkan kepedihan luka ini kubawa sendiri

Sampai akhir waktukku

Semoga kau bahagia dengan yang lain

You will be in my heart

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

Bahagiaku Surga Mereka dan Deritaku Pilu Mereka

November 2, 2011 at 11:58 pm (puisi)

Aku berdiri mengenakan toga ini di sebuah jalan setapak yang gelap .

Pandanganku tertuju pada dua orang di kejauhan sana dengan senyuman yang tak  asing dimataku .

Dua orang yang sangat aku hargai , dua orang yang sangat aku hormati, aku cintai , dan aku sayangi.

Iya.. mereka papa dan mamaku..

Dengan disertai senyuman aku berjalan menghampiri mereka.

Seiringnya langkah terlintas di benaku atas apa yang telah mereka lakukan terhadap hidupku selama ini.

Mama yang telah mengandungku selama 9 bulan .

Mama yang sudah memperjuangkan hidup dan matinya hingga aku dapat hadir di dunia ini.

Mama juga yang telah merawatku dengan penuh kelembutan dan kasih sayang.

Papah yang telah mendidikku.

Papah yang rela bekerja banting tulang , ikhlas mengeluarkan keringatnya agar aku dapat menikmati hidup. Detik demi detik , hari demi hari , bahkan tahun demi tahun .

Apakah yang dapat aku lakukan untuk membalas mereka ?

Sering aku tutup kuping nggak mau dengerin nasihat mereka ,

Sering banget aku bohong kepada mereka untuk kepuasanku ,

Sering aku ngelawan jika mereka marah karena kenakalanku ,

Sering juga aku banting pintu di hadapan mereka jika mereka tidak mengabulkan permintaanku ,

Dan bahkan sering aku mengeluarkan kata-kata kasar yang gak pantas mereka dengar dari bibirku.

Dasar cerewet! Kuno! Kolot!

Tapi apakah mereka mendendam rasa dendam terhadapku ?

Tidak ! Tidak sama sekali !

Mereka dapat tulus memaafkan kekhilafanku.

Mereka tetap menyayangiku dalam setiap hembusan nafas mereka ,

Bahkan mereka tetap menyebut namaku dengan setiap doa-doa mereka hingga aku menjadi seperti sekarang ini.

Ya Tuhan.. betapa durhakanya aku

Tak sadarkah aku bahwa mereka orang yang sangat berarti dalam hidupku.

Langkah-langkahku terhenti di hadapan mereka ,

Dan kupandangi papa dan mamaku inci demi inci ,

Badan yang dulu tegak , kekar kini mulai membungkuk .

Rambut yang dulu hitam kini mulai memutih ,

Dan kulit mereka yang dulu kencang kini mulai berkeriput .

Kutatap mata mereka yang berbinar-binar dan mulai meneteskan air mata bahagia ,

Air mata haru , air mata bangga melihatku memakai toga ini .

Ku cium tangan mereka , ku peluk mereka sambil berkata,

“Papa , Mama , yang aku berikan hari ini tidak akan cukup membalas semua yang telah papa dan mama berikan selama ini kepadaku , terima kasih pah , terima kasih mah , aku sayang papa dan mama sampai akhir hayatku.”

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

17 Tangkai Mawar

Oktober 11, 2011 at 12:20 am (cerpen)

            Yenni baru saja akan melangkahkan kakinya keluar rumah ketika ia mendapati sesuatu tergeletak tepat di depan pintu rumahnya.

Yenni membungkuk untuk mmengambil benda tersebut.

“Mawar?” gumamnya penuh tanya. Ia membuka kartu ucapan kecil yang menggantung manis dengan sebuah pita berwarna merah muda pada tangkai bunga mawar tersebut.

“To Yenni,” gumamnya, mengikuti tulisan yang ada pada kartu ucapan, tapi tidak ada nama pengirimya. Ia tersenyum kecil sambil sembari memandangi setangkai mawar yang ada di tangannya kemudian menghirup baunya yang masih segar. Siapapun pengirimnya pastilah seseorang yang romantic dan baik hati, piker Yenni.

Yenni mengangkat bahunya tak acuh. Mungkin saja saat ini dia memiliki penggemar rahasia, kemudian dengan berhati-hati ia memasukan bunga mawar tersebut kedalam tasnya dan  mulai melangkahkan kakinya untuk berangkat ke sekolah.

***

            “Fan?” panggil Yenni pada sahabatnya yang sedang asyik membaca komik.

“Hmm,” gumam Fanny tanpa mengalihkan perhatiannya dari komik yang ada di tangannya.

“Guam au curhat ke lo, tapi lo dengerin baik-baik,” ujar yenni sambil mengguncang lengan Fanny.

“Iya-iya gua dengerin. Mau curhat apa sih lo?” Tanya Fanny yang mulai mengalihkan pandangannya pada Yenni.

Yenni mengatur posisi duduknya kemudian menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan.

“Lo tau nggak?” ujar Yenni memulai pembicaraan.

“Nggak,” sahut Fanny taktis.

“Iiiiih. Gua belom kelar ngomong!” gerutu Yenni kesal. “Lo tau nggak, kayaknya gua sekarang punya pengagum rahasia deh!” ujar yenni menatap.

“Hah?!”

“Serius! Nih ya, gua certain. Jadi lima hari yang lalu, gua nemu setangkai bunga mawar di depan pintu umah gua, dan bunga itu ditunjukkan buat gua. Gua piker Cuma hari itu aja, eh taunya, itu bunga mawar selalu ada di depan rumah gua tiap hari, dan hari ini adalah hari ke lima gua nerima bunga mawar yang pengirimnya gak gua kenal,” jelas Yenni panjang lebar.

“Hah? Serius lo? Kok bisa gitu?” Tanya Fanny tampak bingung.

“Yenni mengangkat bahu. “Gua juga gak tau, Fan. Tapi, yang masih gua pikirin sampe sekarang, pengirimya siapa ya? Kenapa selalu naro setangkai mawar depan rumah gua? Kenapa nggak langsung naro satu buket aja sekalian? Kan gak ribet mesti ngirim tiap hari,”

Fanny memutar bola matanya, “Yee! Dasar aneh! Itu tandanya pengirimnya sengaja mau bikin lo penasaran, tandanya dia romantis! Siapapun pengirimnya, pasti dia naksir sama lo!” ujar Fanny yakin.

“Masa sih? Terus kalo dia naksir sama gua, kenapa dia nggak langsung ngasih ke gua aja? Kenapa mesti diem-diem gini? Kaya mau perang gerilya aja,” ujar Yenni sekenanya.

“Ya mana gua tahu. Kenapa lo nanya gua? Lo Tanya aja sono sama yang ngirim!” sahut Fanny sewot.

“Giamana gua mau nanya sama yang ngirim? Tau aja nggak!” ujar Yenni.

“Eh iya yah? Ya udah, lo tungguin aja sampe tu pengirimnya menampakkan diri,” tambah Fanny.

***

 “Huh kenapa mesti gua yang disuruh ngangkat buku-buku sebanyak ini?” gerutu Yenni kesal sambil mengangkat tumpukkan buku di tangannya.

Yenni baru saja melangkahkan kakinya beberapa langkah dari perpustakaan ketika seseorang berdiri di hadapannya dan membantunya mengangkat tumpukan buku di tangannya.

“Henry?” gumam Yenni, “Eh, jangan Hen, biar gua aja. Gua bisa kok,”

Henry tersenyum. “Nggak papa ko Yen. Kelihatannya lo keberatan gitu. Jadi gua bantuin.”

“Yenni menyunggingkan senyum termanisnya, “Maksih.”

“Iya sama-sama. Eh iya, ni buku-buku mau dibawa kemana emang?” Tanya Henry.

“Ke ruang guru. Tadi Bu Arini nyuruh gua ngangjut tu buku-buku dari perpus trus ditaruh di mejanya. Katanya mau dipake buat pelajaran selanjutnya.” Jelas Yenni.

“Oh “ gumam Henry mengerti. “Eh iya, ngomong-ngomong soal buku, buku favorit lo apaan?”

“Ha? Ehmm, sekarang sih gua lagi suka sama karyanya Stephany Mayer. Lo pasti tau lah.” Ujar Yenni sambil memamerkan giginya yang tersusun rapi.

“Oh. Iya-iya. Twilight dan kawan-kawan,” ujar Henry diseling dengan tawa. “Eh iya, karyanya Stephanie Mayer yang baru udah keluar tuh, yang judulnya The Host,”

“Iya-iya! Itu tuh, The Host. Gua pengen banget tuh buku, makanya gua lagi nyisihin duit jajan buat beli. Semoga bulan ini duit gua terkumpul.” Harap Yenni.

“Amin.” Ujar Henry tersenyum.

***

            “Yen?” panggil Fanny sambil menyikut lengan Yenni.

“Hmmm?” sahut Yenni yang sedang asyik menendok suapan demi suapan siomay kedalam mulutnya.

“Lo sadar gak sih, dari tadi tu Kevin merhatiin lo terus?”

“Hah? Masa sih?” ujar Yenni tak percaya sambil mencari sosok Kevin seantero kantin. Yenni menyunggingkan senyum ketika tatapannya dan tatapan Kevin bertemu.

“Iya kan?” Tanya Fanny lagi memastikan.

Yenni mengangguk taktis.

“Jangan-jangan pengaggum rahasia lo si Kevin lagi?” ujar Fanny segera.

“Hah?!Nggak mungkin lah! Gua deket sama dia aja nggak. Ngobrol aja gak pernah.” Jelas yenni yang sedetik kemudian menghabiskan sisa es jeruk dalam gelasnya.

“Ya, siapa tahu aja dia merhatiin lo diem-diem gitu?” ujar Fanny bertahan dengan argumennya.

“Ngaco! Udah ah, balik ke kelas yuk!”

“Yah, lo mah! Kenapa nggak lu ambil kesempatan aja sih? Dari pada lo ngarepin si Henry mulu yang gak jelas gimana ujungnya?!” celetuk Fanny yang langsung membuat yenni mendaratkan cubitannya di lengan Fanny, membuat Fanny meringis.

“Bisa diem nggak sih lo?!”

***

            Yenni membuka pintu rumahnya dengan sangat bersemangat. Ia yakin hari ini akan menemukan setangkai mawar lagi, dan ya! Tentu saja. Mawar merah itu sudah tergeletak manis tepat di depan pintu rumahnya. Ini sudah menjadi bunga mawar yang kelima belas yang Yenni terima. Tetapi Yenni sama sekali belum mengetahui siapa pengirim bunga mawar tersebut.

***

            “Dateng ya ke ultah gua! Awas nggak dateng!” ancam Yenni pada teman-teman sekelasnya ketika ia menyebarkan undangan ulang tahunnya yang ke-17.

“Sib Yen! Asal lu nyediain makanan yang banyak aja, kita pasti dateng dengan riang gembira!” cerocos Ifan yang langsung dengan segera di ikuti koor seantero kelas.

“Itu mah maul u, fan! Lu kan doyan makan!” Brian menimpali.

“Udah, kalian tenang aja. Pokoknya kalian dijamin bakal kenyang deh kalo dateng ke ultah gua! Gua bakal sediain makanan yang banyak!” jelas Yenni yang langsung disambut dengan sorak sorai teman-teman sekelasnya.

Yenni mencari sosok Henry di seluruh penjuru sekolah. Namun hasilnya nihil, Yenni hanya ingin memberikan undangan ulang tahunya pada Henry, berharap henry mau datang ke pesta ulang tahunnya besok.

Yenni berjalan menuju gerbang sekolah, ketika tatapannya tertuju pada seseorang.

“Antoooon!” teriak Yenni dengan suara suprasoniknya. Sontak membuat orang-orang yang ada di sekitar gerbang sekolah menoleh padanya, begitu pula Anton, teman sekelas Henry. Sedetik kemudian Yenni sudah berada di samping Anton.

“Kenapa Yen?” Tanya anton menatap yang masih terengah karena harus berlari menghampirinya.

Yenni mengatur nafasnya. “Gua Cuma mau nitip ini buat Henry, rumah kalian deketan kan?” ujar Yenni sambil memberikan sebuah kartu undangan pada Anton.

Anton menatap kartu undangan yang terbungkus rapi dalam amplop ungu tersebut. “Apaan ini Yen?”

“Undangan ultah gua. Sampein ke Henry ya!”

“Ultah? Gua nggak di undang ni?” Tanya anton tersenyum.

“Hah?? Eh iya. Lo boleh dateng deh! Tapi ajak Henry ya!” ujar Yenni di iringi senyum termanisnya, membuat Anton tertawa.

“Sib!” Anton mengacungkan dua jempolnya.

***

            Yenni berharap akan menemukan kejutan di hari ulang tahunnya pagi ini. Seperti biasa, dengan bersemangat ia membuka pintu rumah dan menanti setangkai mawar yang setiap pagi tergeletak manis tepat di depan pintu rumahnya. Namun pagi ini, hasilnya nihil. Jangankan kejutan di hari ulang tahun. Setangkai mawar pun tidak ia terima.

***

            Tiba saatnya bagi Fanny untuk memotong kue ulang tahunya. Namun, ia hanya ingin memotong kue ulang tahunnya dengan kehadiran Henry. Namun sampai saat ini, ia tidak juga melihat sosok Henry. Teman-temanya yang lain tidak mungkin harus menunggu lebih lama agi. Sehingga orang tua Yenni menyuruhnya untuk memotong kue ulang tahunnya segera.

“Udahlah, Yen. Henry tuh nggak bakal dateng.” Ujar fanny tak sabar.

“tapi, Fan…”

“Udah buruan lo potong kuenya! Lo mau bikin acara ulang tahun lo kelar besok pagi?!”

Akhirnya dengan langkah gontai Yenni melangkah menuju kue ulang tahunnya. Ia baru saja akan mengambil pisau kue ketika ia menemukan sosok Anton yang berjalan menuju ke arahnya. Dengan segera senyum tersungging di bibirnya.

“Hai, Yen!” sapa anton ketika sampai di tempat Yenni berdiri.

“Anton! Thanks ya udah mau dateng!” ujar Yenni bersemangat. “Henry mana?” tanya  Yenni mencoba mencari sosok Henry.

“Eh iya. Ni kado lo. Sori, gua nggak bisa kasih apa-apa.” Ujar anton tanpa mengacuhkan pertanyaan Yenni. Yenni meraih kado yang di berikan padanya.

“Ton, Henry mana?” Tanya Yenni sekali lagi.

Anton menatap Yenni dengan tatapan sendu.

“Yen, sebelumnya gua mau minta maaf karena nggak berhasil bawa Henry ke sini.” ujar Anton serius.

“Emang kenapa? Henry nggak mau dateng?”

“Bukan gitu. Henry mau banget dateng. Gua yakin Henry pasti nggak keberatan buat dateng ke acara lo, tapi…..” Anton menggantung kalimatnya, membuat Yenni penasaran.

“Tapi?”

“Anton menghela nafas, “Yen lo yang tabah ya.”

“Maksud lo?”

“Henry mengidap kanker otak stadium lanjut, dan nyawanya nggak bisa tertolong. Gua juga bau tahu, ternyata alas an kenapa Henry nggak masuk sekolah kemarin, itu karena Henry koma di rumah sakit sampai akhirnya Henry meninggal tadi pagi.” Jelas Anton dengan wajah sendu.

Yenni membekap mulutnya dengan kedua tanganya. Matanya mulai berkaca-kaca. Pikirannya kalut. Apa yang baru saja dikatakan oleh Anton benar-benar sebuah mimpi buruk. Henry meninggal? Nggak mungkin! Terakhir kali ia melihatnya saat mereka membawa buku-buku untuk Bu Arini. Mengapa secepat ini? Pikir Yenni.

“Henry juga nitip sesuatu buat lo, Yen.” Ujar Anton sambil memberikan sebuah kotak berwarna merah muda pada Yenni. Yenni meraihnya. Sedetik kemudian Yenni membuka kotak tersebut. Betapa terkejut Yenni ketika ia menemukan setangkai mawar yang berhias pita berwarna merah muda dengan tulisan tangan pada kartu  ucapan yang sama yang ditunjukkan padanya setiap hari. Ya, ia mengenali tulisan tangan pada kartu ucapan tersebut. “To Yenni”. Tulisan tangan Henry. Jadi selama ini, Henry lah yang selalu mengirimnya bunga mawar? Air mata Yenni mulai menetes satu-satu. Ia kembali menatap kotak kado dari Henry, sebuah novel yang selama ini ia idam-idamkan. Ya, novel yang pernah mereka bicarakan. The Host karya Stephanie Mayre. Henry menghadiahkannya novel tersebut. Kini Yenni tahu alasan mengapa ia tidak menemukan setangkai mawar pun pagi ini, itu semua karena Henry tidak bisa mengantarnya.

Yenni berjalan menuju vas bunga yang ada di sudut ruangan. Ia eraih ke-16 tangkai mawar yang ada di dalamnya. Kemudian menggabungkannya dengan mawar yang terakhir. Tepat 17 tangkai mawar. Tepat di hari ulang tahunnya yang ke-17. Tangis Yenni pecah seketika sementara Fanny dan yang lain menguatkannya. Pandangan Yenni mulai menggelap sampai akhirnya ia kehilangan kesadran dan jatuh pingsan.

***

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

Cinta dan Sahabat

Oktober 4, 2011 at 3:52 am (cerpen)

Cinta dan sahabat, dua hal yang tak mudah ntuk dimengerti. Kadang bisa sangat berarti, namun dalam hal itu bisa membuat luka teramat perih. Aku adalah orang yang berada di tengah-tengah cinta dan sahabat itu. Kini, aku yang begitu merindukan hadirnya seorang kekasih, dalam hangatnya persahabatanku dengan Sisil yang lebih muda satu tingkat dariku.

Tiga minggu di awal semester satu…aku duduk di bangku kelas XII, seabrek kegiatan pun kulalui tanpa kuharus memikirkan cinta menurutku itu hanya membuatku lelah.

Namun, pertemuan itu membuatku melupakan suatu hal, aku yang larut dalam perasaanku terhadap Alan. Aku terlalu bodoh karena terlalu jatuh hati pada orang yang salah, jatuh hati pada orang yang tak pernah menyimpan cinta padaku. Aku tak begitu saja menyalahkannya! Dia tak patut untuk disalahkan, dia hanya korban dari cintaku dan dia terlalu baik mau mengerti akan cintaku padanya.

Dan terlalu naif bila kini aku harus menyesal karena mengenalnya. Karena dia aku dapat merasakan hal terindah, walaupun hanya sekejap. Aku terlalu naif hingga aku pun tidak menyadari Sisil merasakan juga perih yang kurasa. Sisil sahabatku orang yang kupercaya seutuhnya, orang yang selalu berusaha ada untukku. Kini, telah terluka karena keegoisanku.

Seharusnya aku tak pernah hadir di antara Alan dan Sisil. Bila akhirnya luka ini yang kurasa.

Andai saja kusadari dari awal, andai saja ku lebih mengerti mereka, andai saja aku tidak jatuh hati pada Alan, Alan dan Alan. Orang yang kucintai dan selalu ada dalam hatiku walau hati ini terasa perih, kudapat mengerti tak ada gunanya kubertahan di sisimu, karena ternyata kau lebih menginginkan Sisil mengisi hari-harimu. Aku di sini yang begitu tulus mencintaimu dan aku yang selalu berusaha ntuk mengerti dirimu kan selalu menanti dan menata hati lagi hingga bayanganmu pergi hingga tak ada lagi luka kurasa, hingga tak ada lagi kecewa yang terasa.

Aku di sini kan selalu berusaha tegar menjalani hari-hariku, aku kan selalu berusaha tersenyum agar kau bisa bahagia bersama Sisil sahabatku. Walaupun dia telah merebutmu, kisahku dan dia dulu takkan pernah kulupa, dia tetap sahabatku, percayalah dengan sisa kesedihanku ini.

Kumasih dapat bertahan hingga kelak kau mengerti bahwa aku memang mencintaimu. Aku memang menyayangi, tapi aku tak rela tersakiti olehmu saat ini, esok dan sampai kapanpun.

Pertemuan itu berawal dari perkenalanku dengan Alan, seorang cowok yang aku kenal dari temanku, Marcell. Perkenalan yang terbilang singkat juga, aku mulai merasakan getaran cinta itu. Rasa itu mulai menerangi kembali tahta hatiku yang telah lama ditinggal pergi oleh seseorang yang pernah begitu berarti dalam hidupku dulu. Yang sampai saat ini pun aku belum bisa melupakannya.

Alan yang telah hadir untuk mengisi hari-hariku pun membuatku terlelap akan rasa bahagia itu, hingga akupun tak pernah menyadari ternyata semua kebahagiaan itu palsu. Alan orang yang kucintai dengan tulus ternyata datang hanya untuk menyakiti dan menorehkan luka. Luka yang teramat dalam di hatiku. Pertemuan itu juga yang telah menghancurkan semuanya. Hidupku yang begitu indah yang begitu berwarna menjadi hancur akan hadirnya!

Malam itu aku dan Alan sepakat untuk memadu kasih, merajut asa dan menggapai cita berdua. Aku belum pernah merasakan sebahagia ini, aku begitu merasa begitu beruntung bisa dicintai oleh orang yang kucintai. Hari-hari bahagia pun mulai kami lalui. Alan begitu indah di mataku yang membuatku lupa akan segalanya, bila bersamanya. Itu juga yang membuatku merelakan tahta hatiku dipenuhi oleh cintanya, namun lagi-lagi kenyataan tak selalu berjalan sesuai dengan yang kuharapkan.

Minggu pertama hubungan cintaku bersama Alan mulai goyah, Alan mulai berubah dan tidak lagi Alan yang selalu tersenyum untukku. Alan tidak juga bersifat manis padaku, setiap tutur katanya yang menyejukkan hatiku kini terasa mengiris-iris hatiku. Apa yang telah kulakukan padanya hingga dia begitu tega padaku, aku begitu percaya padanya hingga aku pun terluka olehnya.

Hubungan ini berakhir begitu saja, pertemuan singkat itu menjadi menyakitkan. Sahabat pun menjadi pelarian sedih dan kecewa, tapi sahabatku tega mengkhianatiku. Dia yang ternyata merebut Alan dariku, dia merenggut semua kebahagiaanku . Persahabatan yang telah bertahun-tahun kubina bersamanya pun menjadi tak berarti. Aku lelah dengan semua ini hingga aku sempat memutuskan tali persahabatan itu, egoiskah aku?

Aku hanya belum bisa berpikir jernh saat itu, aku merasa semakin tolol, seharusnya kubisa merelakan Alan dan Sisil untuk bersama. Karena mungkin kebahagiaan Alan hanya ada pada Sisil! Aku belum siap kehilangan kebahagiaan itu, aku masih ingin disayangi walau semua itu hanya kebohongan. Aku tak mau merasakan sakit hati ini lagi. Akankah sakit ini akan terganti saat ku melihat kebahagiaan orang yang kucintai dan Sisil sahabatku.

Kini dalam setiap hari-hari sepiku, dalam kesendirianku, aku hanya bisa berharap aku kan memiliki kekasihku lagi, memiliki dia yang telah pergi, karena aku kan selalu mencintainya. Aku kan selalu mengenangnya di dalam hatiku,karena dia telah datang dan pergi dengan menghiasi setiap sudut didalam hatiku dengan cintanya yang sesaat, dan Sisil sahabatku buatlah cintaku bahagia karena kalian begitu berarti untukku…***

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

Kamus TANGAN Orang Sukses

Oktober 3, 2011 at 1:50 am (Uncategorized)

1.Berani hadapi rinTANGAN.

2.Tidak lari menerima tanTANGAN

3.Ringan TANGAN melakukan kebaikan sekecil apapun.

4.Menghindari panTANGAN yang merusak kepribadian dan kehormatan.

5.Siap bergandeng TANGAN untuk kerjasama dalam kebaikan dan takwa.

6.Aktif menggerakan TANGAN untuk menghasilkan kebaikan.

7.Mengulurkan TANGAN untuk mereka yang membutuhkan.

8.Meletakkan TANGAN di atas lebih baik dari pada tangan yang di bawah.

9.Tidak pindah TANGAN terhadap amanah yang dipikulkan.

10.Tidak cuci TANGAN dari berbagai kesalahan.

11.Membuka TANGAN untuk memaafkan.

12.Lambaikan TANGAN untuk menyapa salam penuh persahabatan.

13.Hati-hati dalam membubuhkan tanda TANGAN dan membuktikan peran.

14.Prioritaskanlah, surgakan peran dengan senantiasa mengangkat kedua TANGAN untuk berdoa, beribadah dan bersyukur mengagunggkan yang Mahabesar.

 

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

Next page »

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai